RSS

Laman

Biografi seorang "IMAM"

Tulisan seorang anak tentang sosok seorang Bapak yang menjadi panutannya meski kini telah tiada.
                                                  

Situbondo, 2 Mei 1952 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional Beliau dilahirkan. Ibunya bernama “Siti Khairiyah” dan Ayahnya bernama “Abdul Djalal Pranotokusumo”. Beliau diberi nama “Imam Soegito” dengan panggilan khas orang Madura yaitu “Kacong” yang artinya anak laki – laki. Beliau merupakan anak ketiga dan anak laki – laki pertama dari enam bersaudara yaitu Kiptiyah, Sundari, Imam Subroto, Fajrul Fanani & Nur Ilham Arifin.
7 Juni 1980, Beliau menikah dengan seorang wanita kelahiran Surabaya yang bernama “Titiek Sarwirahaju” yang kemudian dikaruniai tiga orang anak yaitu : Gristian Alfat, Zulaili Andina dan Frizal Akbar.
Beliau adalah seorang “IMAM” atau pemimpin. Sebagai kepala rumah tangga sekaligus sebagai seorang Ayah, Beliau sangat tegas dan disiplin dalam mendidik anak – anaknya. Perlakuannya sama terhadap ketiga anaknya, tidak pernah membeda – bedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak hanya dilingkungan keluarga, dilingkungan kerja dan dilingkungan masyarakatpun Beliau dikenal sebagai sosok yang sederhana, berprinsip, bertanggungjawab, disiplin, berwibawa, tegas, bijaksana, berjiwa sosial dan termasuk orang yang senang bergaul dengan siapa saja, dari berbagai lapisan masyarakat. Tak heran jika banyak yang kenal dengan Beliau.
Beliau mengawali karir sebagai seorang staf di Pemerintahan dan sebagai seorang pengajar/mentor mengajar keliling Indonesia. Hasil dari mengajar itulah, beliau tabung untuk membangun rumah yang sedang kami tempati sekarang ini. Rumah impian yang nyaman hasil dari kerja keras Beliau untuk memberikan yang terbaik bagi Istri, anak dan keluarganya.Berkat keuletan, kegigihan, kecerdasaan, Ilmu dan kemampuan yang Beliau miliki serta do’a dari kedua orang tuanya dan keluarga, karirnya menanjak pesat sampai akhirnya Beliau pensiun sebagai Kepala Dinas Koperasi & UKM di Pemerintahan TK. II Situbondo.
Beliau sangat sayang pada Ibunya. Setiap akan melaksanakan tugas Beliau tak lupa untuk membasuh kedua kaki Ibunya kemudian meminum air basuhan tersebut sambil meminta do’a agar semuanya berjalan lancar & sukses. Itulah salah satu kunci sukses Beliau dalam menjalani hidup di dunia ini. Sepeninggal Ibunya, seakan separuh jiwanya hilang dan itu sangat terlihat jelas diraut wajahnya.
Tanggal 8 Maret 2010 Beliau meninggal dunia di usia 58 tahun. Tepat dihari ulang tahun adik bungsunya. Kesan sedih mendalam terlihat jelas dari para pelayat yang datang saat Beliau dimakamkan, bukan hanya kami keluarganya tetapi mereka juga ikut merasa kehilangan. Sungguh luar biasa yang sudah Beliau lakukan semasa masih hidup. Banyak kesan, cerita dan kenangan indah sejak bersama Beliau.Jasa - jasa Beliau akan selalu dikenang. Mungkin inilah yang disebut mati yang Khusnul Khotimah.Kini sosok itu telah tiada Rindu kami dengan semua nasehat dan petuah bijakmu serta canda tawamu, Bapak....
 

Bel  


(Mengenang 2 tahun sejak kepergiannya)
Do'a kami kan slalu tercurah untukmu Bapak
---------------Anakmu tercinta------------------

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

Anonim mengatakan...

menetes air mataku

Elala ZA mengatakan...

makasih ya...

Posting Komentar